Loading...
Sunday, August 04, 2013

Wisuda ke-90 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



Apa yang membuat orang tua bahagia? Jawabannya adalah ketika melihat anak-anaknya sukses. Berbicara kata sukses sendiri tidak bisa diukur dari parameter yang mutlak karena kesuksesan itu relatif dan cukup luas jika dijabarkan, namun demikian jika ditinjau dari sudut yang lebih sempit, sukses bisa diartikan sebagai pencapaian dari sebuah usaha. Bentuk dari kesuksesan itu salah satunya menamatkan kuliah. Proses dari sebuah usaha disini berlangsung selama empat tahun lamanya, bagaimana kita berlajar, berkorban waktu, dan berkorban uang dari hasil tetes keringat orang tua kita.
Selama empat tahun kurang aku berjuang di UIN Jakarta. Perih, pedih, dan gembira semua pernah saya rasakan. Aku masuk UIN melalui Ujian jalur Mandiri (UM) yakni jalur terakhir dari penerimaan masuk UIN, kenapa pilih jalur terakhir? Karena 2 kali berturut-turut aku gagal masuk universitas terkemuka di jurusan yang sama seperti yang aku ambil di UIN. 
Hal yang paling aku ingat sebelum masuk UIN adalah ikut bimbel yang diadakan selama 3 hari, dari 200 orang lebih jurusan IPS yang mengikuti bimbel Alhamdulillah aku peringkat pertama dalam try out ujian masuk UIN, sampai sekarang masih ada buku catatan dari hadiah ujian try out dulu, malah saya jadikan buku catatan pribadi yang isinya cerita cinta, pengalaman, dan cita-citaku. Ujian masuk dilaksanakan dan betapa kagetnya ternyata setengah soal di bimbel yang aku pelajari keluar.
Singkat cerita aku diterima di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN pada tahun 2009, cerita yang unik pada awal masuk yakni bahasa indonesiaku yang “meledok” abis, kalau kata orang jawa sana “”ngapak”. Gimana nggak meledok abis, selama 3 tahun hidup di daerah jawa yang bahasanya super ngapak membuat kita menyesuaikan diri. Awal semester satu aku masih kayak anak mamih, kuliah selesai langsung pulang, kegiatan ini terus berlangsung sampai dipenghujung semester satu. Akhirnya aku menemukan kegiatan yang menarik menurutku, aku masuk Lemabaga Pers Mahasiswa (LPM) INSTITUT, lembaga ini termasuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada didalam kampus UIN.
Awal pelatihan di INSTITUT sudah sampai magrib, waduh firasatku nggak enak nih, gimana bisa belajar kegiatannya saja tiap hari (sok akademis dikit), kalau nggak ada kegiatan dikasih tugas, dan lebih kagetnya lagi setelah seminggu ta’aruf langsung ditanya “Loe milih ninggalin kuliah apa ninggalin kegiatan INSTITUT? Kalau loe nggak siap ninggalin kuliah demi kegiatan kita mendingan loe buka pintu pergi aja dari sini!” mendadak aku langsung gugup, mau gimana lagi aku harus memilih, kadung cinta di dunia tulis menulis akhirnya aku tanda tangan MoU yang isinya kesiapan mengikuti semua kegitan INSTITUT. 
Firasatku benar terjadi, hal yang buruk segera datang, selama pelatihan menjadi calon anggota rasanya sangat-sangat berat. Terlebih lembaga ini sedang diambang kemusnahan karena selama 2 tahun terjadi benturan-benturan internal yang disebabkan adanya perbedaan bendera antara hijau dan biru. Pecah kongsi tak dapat terhindarkan dan meninggalkan segelintir manusia di organisasi. Ditambah lagi dari pihak rektorat beberapa kali memberi isyarat untuk menghapus lembaga ini karena kurangnya peminat. Imbasnya pada kaderisasi angkatanku menjadi super keras dan menekankan loyalitas organisasi. Tidak hanya dikuras lewat tenaga saja secara mentalpun kita benar-benar merasa diperbudak. Pendidikan yang super keras pada titik tertentu akupun hampir mengundurkan diri, tapi berkat kawan-kawan angkatanku yang tak henti-hentinya memberi support akhirnya aku bertahan. Karena merasa senasib sepenanggungan, angkatanku membuat forum underground yang isinya upaya untuk membebaskan diri dari pendidikan yang tidak manusiawi, jargon yang kita pakai “Merdeka atau terjajah selamanya!”. Ajaran Pramodeya tentang “boikot” kita pakai dan menjadi agenda besar untuk menumbangkan rezim kesewenang-wenangan, Alternatif selanjutnya adalah mengkudeta. Angkatankupun melakukan boikot dan memberikan hasil nyata, pasca kepengurusan rezim lama lalu naiklah angkatanku sebagai pengurus baru, organisasipun menjadi normal artinya organisasi menjadi independen dan bebas dari pendiktean kebijakan.

Di LPM INSTITUT aku menjalani dua kepengurusan, periode pertama tahun 2011 menjadi sekretaris umum dan periode kedua tahun 2012 menjadi divisi riset dan pendidikan. Berbagai kebijakan rezim lama kami rubah mulai dari sistematika pendidikan, memasukan survei, pernggantian cover menjadi berwarna, menghidupkan iklan, menghidupkan kembali majalah (Majalah yang kami gagas sudah jadi namun karena terkendala pendanaan, sehingga majalah baru terealisasi diangkatan berikutnya dengan judul “Cerita Seputar Ciputat”) dan penambahan eksemplar dari 1000 tabloid menjadi 2000 tabloid. Untuk meletakan batu pertama bukanlah perkara mudah, aku ingat betul saat pertama membuat survei, aku sendiri harus berputar-putar 11 fakultas dan merancang agar survei yang dibuat mudah dipahami sekaligus memberikan representasi dari suara mayoritas.
Buah dari perjuangan yang panjang ini, akhirnya LPM INSTITUT mampu tampil dikancah nasional sebagai persma yang kritis dan dianugrahi Insprima Awrd sebaga non majalah Jawa terbaik. Bagi teman-taman yang baru ingin menjadi wartawan di LPM INSTITUT janganlah berkecil hati ataupun ciut nyalinya, INSTITUT sekarang bukanlah INSTITUT yang dulu seperti yang saya ceritakan diatas, INSTITUT sekarang lebih kekeluargaan dan tidak ada senioritas. Akan sangat rugi kalau kamu interest dibidang jurnalistik tapi tidak aktif di LPM INSTITUT karena banyak pengalaman yang akan anda dapatkan.
Pasca lengser dari INSTITUT di penghujung tahun 2012 aku tidak aktif diorganisasi manapun, karena memang semesterku sudah memasuki semester akhir aku lebih fokus untuk mengerjakan tugas akhir kuliah “skripsi”. Selain itu aku juga punya misi pribadi, aktivispun bisa lulus cepat.  Puji sukur pengorbananku selama 6 bulan lamanya berbuah manis, dari angkatanku jurusan manajemen sebanyak 300-an mahasiswa yang diwisuda angkatan 90 hanya 10 orang dan aku salah satunya. Memang aku akui dari segi nilai punyaku setandar karena dari semester awal aku lebih suka diorganisasi sehingga kuliah dinomor duakan, aku punya prinsip substansi dari apa yang diajarkan lebih penting daripada mengejar nilai, yang pada akhirnya hanya dijadikan formalitas belaka. Kata orang bijak “prosesnya itu lebih penting dari pada hasil”.
Wisuda UIN Jakarta Angkatan 90
Beberapa hari menjelang wisuda musim seperti tak bersahabat, hujan seharian selama tiga hari berturut-turut melanda Ciputat, dalam hati kecut rasanya membayangkan acara wisudaku akan dibarengi dengan hujan. Kata orang patah hati “hujan adalah kesedihan”, begitupun bagi acara akbar macam wisudaku ini, hujan akan menimbulkan kesedihan karena orang-orang dekat yang berniat datang pasti ada yang mengurungkan niatnya. Tuhan berkata lain, ternyata bertepatan acara wisuda hari sangat cerah, semburat awan kecil dan birunya langit yang menghiasi dinding langit kala itu. Mungkin ini hasil dari doa ribuan para sarjana dan orang tua yang menunggu-nunggu datangnya hari H itu, sehingga langitpun urung untuk meneteskan air mata.  
Tepat pukul 07.00 pagi sesuai dengan intrupsi dalam undangan semua peserta wisuda diwajibkan berkumpul didepan halaman gedung rektorat. Rektor bersama pembantu rektor (Purek) Kemahasiswaan secara simbolis menerbangkan balon sebagai awal pembukaan acara wisuda. Tepuk tangan meriah mengiringi terbangnya balon bertuliskan wisuda sarjana ke-90 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kemudin para sarjana dipersilahkan masuk Auditorium Harun Nasution.
Memasuki acara pertama MC mempersilahkan seluruh hadirin berdiri menyambut jajaran rektor dan guru besar memasuki panggung utama. Kumandang lagu “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” mengalun syahdu, menembus sanubari, lantas diikuti lagu kebangsaan Indonesia. Pembacaan ayat suci al-quran kemudian masuk ke acara inti yakni pembukaan sidang senat terbuka tentang pembacaan surat kelulusan yang isinya jumlah perserta wisuda ke 90 dan pengumuman mahasiswa terbaik. Wisuda kali ini bertemakan “Membangun Pusat Kajian Islam untuk Indonesia yang Ramah” diikuti sebanyak 1.345 sarjana yang dibagi menjadi 2 hari, jumlah sarjana di fakultasku (Ekonomi dan Bisnis) sebanyak 139 sarjana. Untuk kelanjutan acara cari tahu sendiri ya, dan bagi kamu yang belum lulus cepat-capat deh lulus. Wisuda itu acara sakral, apalagi wisuda S1 sangat berkesan banget. Kata Sahrini “Sesuatu Banget”.

0 komentar:

 
TOP